Pemain Unggulan Dominasi Semifinal
MANADO — Dari semua pemain unggulan dalam
kompetisi bulu tangkis tingkat SD dan SMP, MILO School Competition 2012,
di GOR Arie Lasut Manado, hanya unggulan tunggal putra kategori SMP,
Zakaria Sumantri dari SMP 6 Tondano, yang gagal melaju ke babak
semifinal pada Jumat (11/5/2012).
''Awalnya, kami memprediksi
semua pemain unggulan akan lolos ke babak semifinal. Tapi, ternyata
meleset karena seorang pemain non-unggulan tunggal putra kategori SMP,
Schwarz dari SMP Kristen Seretan, berhasil lolos ke delapan besar. Kita
lihat saja apakah dia mampu lolos sampai ke babak final,'' ujar
Octavianus Salaci, wasit pertandingan, yang akrab dipanggil Kiki.
Para
atlet unggulan yang mendominasi babak semifinal adalah di nomor tunggal
putra dan putri kategori SD serta tunggal putri kategori SMP.
Peta
kekuatan mudah dibaca karena pemain unggulan memang sering ikut dalam
kompetisi di Manado sehingga mereka lebih menguasai lapangan, kata Kiki.
Rata-rata
pemain memiliki teknik yang bagus dan sudah mengetahui kekuatan
lawannya. "Ini yang akan membuat babak semifinal semakin ketat dan
pertandingan akan berlangsung seru," tambahnya.
Pemain unggulan
yang dinilai berpeluang juara adalah Dicky Wahyudi dari SDN 86 Manado
dan Andre Gerad Mathew Tilaar dari SD Advent Lowu Ratahan, Clief
Christopher Bambi dari SMP Kristen Rurukan, Freinel Sompi dari SMPN 2
Kauditan, Winny Kandou dari SMPN 8 Manado, dan Trivena Selain Doong dari
SMP Advent Tukala.
"Prestasi bulu tangkis Sulawesi Utara cukup
bagus, apalagi sejak adanya MILO School Competition 2009 di Manado,
mulai banyak kemajuan yang dicapai. Anak-anak yang gemar bulu tangkis
semakin banyak, dari sisi kualitas bermain juga semakin bagus,'' papar
Kiki.
"Ini bisa dilihat dari banyaknya jumlah peserta MILO School
Competition 2012 di Manado, semula ditarget 500 anak membeludak hingga
800 dan terpaksa dibatasi 611 peserta."
''Kami memang tidak
berani muluk-muluk soal peluang bertanding bagi juara Manado tahun ini
di Jakarta nantinya, tetapi kami bisa berharap mereka minimal bisa masuk
sampai babak semifinal seperti tahun 2009. Kami sadar jumlah kompetisi
di sini tidak sebanyak di Jawa. Ini tentu saja berimbas pada jam terbang
bertanding anak-anak dan kemampuan melihat strategi bermain atlet dari
Jawa,'' pungkas Kiki.